Guru Tua

Guru Tua

“Bu… Irma lagi dimarahin sama Kak Chaerul!”

Begitu pernyataan anak-anak yang lewat di depan kantor SMA menjelang zuhur tadi pada Ida, bagian keuangan yang duduk di meja paling depan. Begitu ya, kesannya? Hehehe… Dan siapakah Chaerul ini? Bagi yang belum kenal, beliau ini guru TIK, alias Teknologi Komunikasi dan Komputer. Masih dipangil Kak, bukan Pak, karena usianya masih di awal dua puluhan. Dan prasangka anak-anak di atas tadi ada hubungannya dengan suaranya yang memang biasa mengelegar.

Kebetulan, tadi Chaerul tampak begitu antusias. Semangatnya setinggi suaranya. Dia bercerita tentang uang yang keluar dari saku pribadi, untuk lembaran fotokopian anak-anak, atau penghapus papan tulis yang sudah perlu diganti. Bukan untuk sombong mungkin. Nada itu tidak ada dalam suaranya. Tapi untuk alasan sederhana, “setidaknya anak tau, bahwa ada yang mau berkorban agar mereka bisa belajar dengan lancar, biarpun bisanya baru segitu”

Ah dia baru tahu sekarang kalau dia mengajar lebih dari yang seharusnya. Padahal tahun ajaran sudah hampir memasuki paruh kedua. Berarti sudah satu semester dia bekerja lebih dari bayarannya, dan tak pernah memerhatikan slip gaji. Tapi setelah tahu pun, tetap tak peduli. Mau saja mengajar tiga jam lebih banyak.

TIK memang terpaksa mendapatkan jadwal lab di luar jam sekolah, karena tak dapat tempat ketika bersesakan dengan enam belas mata pelajaran lain. Karena itu banyak anak yang mungkin hadir. Tambahan lagi, mayoritas siswa di SMA ini adalah lelaki, yang menurut banyak pihak, lebih sulit diatur. Lalu apa yng dilakukan guru muda ini caranya menghadapi anak yang kadang bermasalah?

Ia tak segan menelpon atau mengirim SMS, membuat janji makan di warung tenda. Satu-satu siswanya yang bermasalah diperlakukan demikian. jajan bareng, sambil ngobrol-ngobrol. Dan berhasil.

Beginilah guru-guru muda, penuh energi seperti dia. Tapi sambil bertanya-tanya, semua idealisme ini, antusiasme ini, sampai kapankah akan bertahan? Ketika kebutuhan akan hidup  meningkat dan tanggungan semakin banyak, apakah dia akan tetap dengan gayanya? Ketika usianya makin tua, keinginan-keinginan panjang mengantri, kewajiban di sana-sini, apakah masih sempat mengajak anak didik makan sate di pinggir jalan?

Ah, usia.

Jadi ingat heboh sertifikasi guru-guru kemarin. Lama mengajar merupakan komponen kedua yang dinilai setelah gelar sarjana. Makin lama mengajar, makin besar poinnya. Tentu kesempatan jadi certified teacher yang (katanya) mumpuni dan sejahtera juga makin lebar. Kenapa begitu, ya? Hmm…, mungkin karena makin lama mengajar, kualitas guru juga makin bagus.

Begitukah?

Mungkin saja sih, tapi ingatkah kita pada sosok guru yang mungkin sulit diajak diskusi, makin sok tahu, dan makin membosankan saja setiap masuk ke kelas? Bukannya biasanya guru demikian adalah guru yang ‘lama’ men ngajar, yang dibilang banyak pengalaman itu?

Tentu saja usia muda tak berarti selalu baik, kadang ‘muda’ berarti mentah, emosional, dan mengedapankan ego. Kdang juga bertindak serampangan, dan kurang pertimbangan. Sementara, kita banyak menemui guru tua yang makin lama makin berisi, setidaknya mereka mendukung perubahan dan angina baru di dunia pendidikan tanpa kecurigaan dan apatisme.

Ah, usia.

Usia yang bertambah memang bisa menunnjukkan kematangan dan kebijaksanaan. Tapi usia yang bertambah juga bisa mengikis idealisme, mematikan antusiasme, dan menghilangkan kretifitas. Ah akankah hal itu terjadi pada saya, pada Chaerul, dan banyak guru lainnya nanti? Akankah?

Menjadi tua itu sepertinya… menakutkan.

(sumber: Irmayanti & Gita Lovusa dalam La Tahzan for Teacher hal 147-249)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s