inspirasi tak bertepi part 1

Pandawan, 6  februari 2006

Beda Kita Sama

 

Kita terlahir ke dunia dengan obsesi yang sama

Kita ekspresikan asa dengan cara yang sama

Lewat tarian pena kita berkelana di hutan kata-kata cinta

 

Indah memang diriku, dirimu, diri kita semua

Berlomba memburu kalimat pelangi cinta

Mencoba mengikat semua makna

Lewat ekspresi tulisan pena

Diriku, dirimu, diri kita semua

Dapat selalu bersama, teman !

 

Namun satu beda kita

Ekspresiku ekspresi wanita

Karyaku, karya yang beda

Kita berbeda

Tapi itu semua mampu

Mengubah kreasi baru

CINTA kawan

 

 

Pandawan, 20 agustus 2009

 

Jelma

 

Lelap

Dan menjelma

Menjadi pohon besar

Berbatang kuat

Bercabang banyak

Berdaun rimbun

Sayang…. Akarnya mengecil

Tergoyang sepoi angin

Tumbang….

Namun jelma terus terlelap

Tak sadar

Tumbang

Lalu dimakan rayap

Pandawan, Jum’at malam 4 Desember 2009

 

 

 

KABAR-KABAR BERKIBAR

 

                                                                    Sedikit lelah aku mengeja

Lembar per lembar, adakah yang terlewat

Sedang hari-hari berputar cepat seakan terlupa

Ada sekelumit yang berkibar-kibar

Angin mengabar

 

Merasakan akar menguat;

Menanda kokoh dasar yang rata

Melihat batang meninggi;

Menanda lurus, satu titik fokos

Mewartakan pucuk yang terus tumbuh;

Menanda dewasa mendekati asa dan cita

Menggugurkan daun tua;

Bukan menanda layu, tapi terus berbagi

melebur khilafnya dosa

Masih adakah yang terlewat

Dari yang berkibar-kibar

Dan angin yang terus mengabar.

 

Pandawan

 

 

Perjalanan Malam

 

Perjalanan malam

Menghentakkanku semakin dalam

Melebihi pertemuan yang Kau cipta kemarin

Kau tahu perjalanan ini…

Hanya berawal dari kelam

;lalu berbintang

;dan berakhir menjadi kelam… namun tetap berbintang

Sebuah perjalanan

yang teramat harus diciptakan

Menemani dingin dengan panas yang menghangatkan

Perjalanan malam

Pertemuan yang berakhir menjadi kelam… namun tetap berbintang

Cahaya yang tak kunjung hilang

9 Ramadhan 1430 H


Cukup Embun

 


Puisiku adalah,,,

Sebuah metafora kehidupan

Setetes embun terluncur di sela daun kehijauan

 

Sebuah metonim tuk kehidupan

Embun menjelma tiara indah menyegarkan

 

Sebuah anafir kata

Embun…

Bukan seperti asap

Bukan sebagai kabut

 

Sebuah oksimoron antara embun, asap, juga kabut;

Embun bukanlah seperti asap beracun

Namun cukuplah ia jadi penawar di penghujung bintang

Dan embun tidaklah kabut yang menyesatkan

Tapi ia menunjukkan mata angin yang nampak menyeribu

Tersesat kehausan

 

Karena puisiku adalah

Satu personifikasi alam, menyebar dalam paralel terulang

Biarkan pusiku terkomposisi layaknya embun

Bukan seperti asap

Bukan sebagai kabut

Cukup embun terluncur di dedaunan

 


27 November 2007

Kita Akan Menang

Siap

Tiarap

Tembak… dor !

Sudahkah kau siapkan bekalmu

Usaha dan doa

Mampukah kau menghadapinya

Selesaikah kau latih bala tentaramu

Untuk menembus ruang waktu yang menhadangmu

Mampukah kau untuk itu

Menangkah kau di medan perang waktu

“awas di depan mu!”

Siap

Tiarap

Tembak … dor !

Kau akan menang

Usaha tak lekang

Doa tak hilang

Pandawan, 13 maret 2010

 

 

Motivasi

     Diam dan pelan-pelan ini benar-benar mengakar

Bersama cemburu yang menyentuh bunga

Dan layang melayang hingga jauh

Kau, gadis tergugu tertinggal sepi oleh tawa

Sedang penyair telah cipta berbait-bait, adakah dia mengerti?

Karna hanya kau, gadis, yang mampu mengharap

Mampu memilih

Tuk menjemput

Suka atas duka

Mengiring angin

Mengarah ke tujuan

Pandawan, 30 Maret 2010

Mutiara Kebersamaan

 

Telah kita goreskan warna-warni perjalanan,

Di balik lembar kanvas ini lingkaran waktu turut andil mengekangkan ikatan,

Garis-garis mengaitkan kelingking, tak lepas oleh depa.

Simpul-simpul kebersamaan makin jelas karenanya

 

Hitam; diam, kuning; tawa, serta  hijaunya canda melukis cerita

Sedang merah akan tangis  marah akan pisah telah meleburkan atas prahara.

Melebur dalam putaran arus. Menyatu tak mengendap

 

Telah kita uraikan

Kata tak berbatas, berserak di halaman, tinta emas memadu huruf, merenda kisah. Terjaga hingga tak luntur oleh hitungan milenia

 

Kebersamaan kita, kawan,,,

Seperti syair cinta di hati penikmatnya

Sekerlip mutiara daam lautan perasaan

Cantik aku mengenangnya

 

 

Pandawan, 30 Januari 2008

 

Bisikan Hati

Kalau saja bisikanku tak Kau dengar

Biarlah aku menjelma angin

yang mengoyak, menderu, merajuk

hingga kau berpaling

dan menyaksikanku

terjebak dalam pusaran kerinduan pada Mu

Meski diam hatiku akan terus bicara

betapa damai jika aku mampu

pelajari dan hayati cinta tiap helaan nafas

Duhai Sang Penncinta

adakah yang lebih nikmat dibandingkan tebaran senyum

dan adakah yang lebih berharga dari cinta

yang Kau tebarkan pada tiap makhluk-Mu

yang mungkin hanya bisa ku balas

dengan bisikan hati “terima kasih untuk segalanya”

 

 

Pandawan, Kamis malam 26 Maret 2009

 

Allah …

Jika Kau izinkan aku mengharap apa yang menjadi takdirku

Biarkanku berharap dia yang belum  nyata adanya, kelak menjadi nyata dengan kesetiaannya

 

Karena Kau tahu Tuhan

Serapuh apa hatiku

Segoyah apa jiwaku

Tentunya akan roboh juga jikalau Kau tak sangga dengan goresan takdir

& iman yang lekat pekat

 

Allah…

Karena ku tahu izinMu tuk berharap tak berbatas

Dan karena ku tahu sungguh Kau malu jika tak membalas

Harapanku ini, biarkan menjadi nyata dengan kesetiaannya

Amiin,,,

 

Nb: selepas ku dengan “Istana Kedua” nya Asma Nadia

       Novelet berontaknya wanita dalam ikhlasnya

 

atau bisa unduh di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s